Masak-masak… goreng-goreng…

Di tahun 2005, satu-satunya novel chiclit yang tuntas saya baca dalam dua hari adalah The Undomestic Goddess karyanya Sophie Kinsella. Saya bukanlah pembaca sejati chiclit, saya tahu sih Sophie Kinsella kondang karena kisah Shopaholic-nya itu. Tapi ya itu.. entah kenapa saya sama sekali tidak terdorong untuk membacanya. Sampai pada suatu hari, dengan pertimbangan kalau buku ini tidaklah sekondang karya Jeng Sophie lainnya, saya pun membeli The Undomestic Goddess.

Membaca satu halaman ke halaman berikutnya, saya mulai terhanyut. Walaupun saya bukan “miss kring-kring apalagi blackberry”, saya bisa merasakan hebohnya dunia kerja si tokoh utama (rasanya agak miriplah dengan ‘nyebelinnya kerja di periklanan). Lalu ketika ia sampai pada titik urusan rumah tangga, di sinilah saya merasa senasib benar dengannya.

Saya boleh pe-de dengan urusan bersih-bersih rumah. Waktu kecil tugas utama saya setiap pembantu mudik adalah mengepel lantai sampai mengkilat. Tapi, plis deh..jangan tanya soal masak-memasak. Di kelas PKK dulu, lumayan sih pernah dapat nilai bagus. Mungkin ibu gurunya sayang sama saya.. hahaha…Tapi memasak itu perlu latihan harian supaya bisa masuk kategori pandai, bukan? Saya asli merasa tidak bisa memasak! Kencur, jahe… ooh.. pigimane bentuknya, ya? Mengaroni nasi itu bagaimana, ya (terima kasih pada teknologi rice cooker)? Kapan saat tepat mengangkat telur rebus yang benar-benar matang? Takaran bumbu yang pas itu seperti apa, ya?

Karena kehidupan itu dinamis, manusia pun mau tak mau harus pandai beradaptasi. Tibalah saya pada satu titik awal yang menuntut saya untuk “nekad”. Setelah dilamar untuk kesekian kalinya, akhirnya saya tanyakan pada si pelamar yang keukeuh itu, yakinkah dia mau memperistri saya yang tidak bisa memasak ini? Jon yang positive thinker itu menjawab, “Ya gak masalah, nanti lama-lama pasti bisa kok. Lagian kalau harus beli makanan terus kan mahal?”. Dia juga pernah bilang, “Kalau gak masak, berarti gak makan dong?”.

Setelah saya menikah dan melihat wujud nyata kampung baru saya, saya sadar 100% kalau Jon sungguh benar. Jangan pernah berpikir Tumbler Ridge akan seasyik Jakarta dalam soal jajanan, apalagi untuk Jon yang dari bayi sudah vegetarian itu. Yang kedua, saya pikir saya harus belajar memasak karena rasanya kok ya tega banget ‘nyuruh suaminya masak sepulang kerja padahal dia sudah kerja keras seharian? Lagipula saya tidak bekerja segila dulu lagi (gila karena ada di luar rumah lebih dari 12 jam!), jadi saya pasti bakal punya banyak waktu untuk belajar memasak. Bukankah perkawinan juga wujud dari teamwork?

Dan saya pun belajar memasak, sendiri. Berbekal doa panjang plus niat, kumpulan resep singkat dan padat dari ibu saya ditambah browsing situs-situs resep yang aneka ragam, saya pun memasak. Yang pertama adalah spaghetti vegetarian. Besoknya, nasi goreng vegetarian. Akhirnya saya mulai nekad mencoba resep-resep baru, bahkan belakangan jadi lumayan suka bereksperimen. Tester-nya? Ya tentunya Jon dan kadang-kadang mertua saya saat mereka berkunjung. Kalau saya keukeuh bilang masakan ini rasanya atau bentuknya kurang asli, Jon dengan baik hatinya akan menjawab, “We.. bule.. couldn’t tell lah, Beib! Trust me, it’s OK.”.

Sekarang, sudah hampir 3 tahun saya memasak untuk suami saya. Kadang-kadang juga untuk tetangga dan teman-teman di sini. Saya boleh sedikit berbangga, dua kali menu Lebaran kemarin saya kerjakan sendiri semua. Saya pun pernah mengalami sindrom kehabisan ide menu hari ini dan mati angin alias malas masak. Di kampung saya ini bahan-bahan makanannya terbatas. Kalau sudah begitu, rasanya ingin pulang kampung. Tapi mohon, jangan minta saya untuk memasak kalau saya pulang kampung nanti. Itu saatnya saya “libur bur bur bur”.

Sejak bisa memasak, kalau ditanya pekerjaan saya apa, maka jawabnya adalah I’m a domestic goddess! (rasanya jadi berjaya dibanding “homemaker”). Tapi sungguh, saya bukan tipe Bree di Desperate Housewives ataupun Monica di Friends. Saya juga tidak punya cita-cita untuk jadi istri yang sempurna seperti yang tergambar di Stepford Wives. Saya hanyalah Bintang yang bahagia menjalani proses belajarnya setiap hari, yang berterima kasih pada suaminya atas kepercayaan dan dorongannya selama ini, yang selalu rajin bertanya sendiri: masak apa ya hari ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: