Errrr… musim semi?

Beberapa hari ini suhu menunjukkan angka -35℃ dan -15℃. Salju masih turun dengan gembiranya. Beberapa orang sudah merutuk, “I hate winter!”. Sebagai seseorang yang berusaha “stay positive”, saya berusaha menikmati pemandangan dan suhu yang ada. Apalagi ini baru bulan Maret. Kalau ingat kejadian tahun lalu, apalah artinya bulan Maret ini walaupun di tanah Vancouver sebentar lagi akan ada Cherry Blossoms Festival.

Ini kisah saya di bulan Mei 2008. Hari Senin tiga minggu lalu, orang-orang di kampung sini mulai cerah ceria. Berani pecicilan pakai tank top, sendal jepit, celana capri, menjauhkan diri dari jaket tebal, para bocah mulai berseliweran main sepeda. Atribut pakaian musim semi mulai dikeluarkan. Maklum deh… dari Oktober 2007, kami sudah mendapatkan curahan salju. Nah.. di pertengahan April itu, matahari begitu bersinar cerah, langit biru, sisa salju pun lenyap total disapu hujan semalaman. Siapa yang tidak senang menyambut musim semi?

Tapi di hari Kamisnya, tiba-tiba turunlah salju. Beberapa mobil terperosok di ditch dalam perjalanan mereka, termasuk mobil ibu mertua saya. Ayo.. dipakai lagi jaket tebalnya! Atap rumah dan ruas jalan kembali berselimutkan warna putih. Suhu berkisar antara -10ºC dan -2ºC tapi anginnya… nyebelin!! Yaah.. begitulah saudara-saudara, musim semi belumlah sampai di kampung ini. Salju turun lagi tanpa henti hingga lewat akhir pekan. Kalau tidak turun salju, langit mendung, angin kencang. Sampai Rabu minggu lalu saja, sepulang kerja pukul 8 malam, saya terpaksa berlarian ke parkiran mobil karena didera hujan air bercampur salju. Coba itu!

What a whacky weather! Orang-orang pada ngomel. Ada yang bilang begini malah, “Spring? Haa.. yeah it will come in July, then August will be summer, then September.. get ready to wrap up everybody!”. Rencana weekend saya berantakan, suami saya lebih senang di rumah daripada harus menyetir. Alhasil, saya lebih sering berdiri di depan jendela menatap salju yang turun terus menerus daripada bepergian.

Dulu di Jakarta, saya juga suka berdiri di depan jendela menatap hujan turun sambil terngiang-ngiang lagunya Bang Ben dan Mpok Ida: “Eh hujan gerimis aje, ikan lele ade kumisnye…”. Nah sekarang, entah kenapa rasanya saya tetap keukeuh ingin menyanyikan lagu itu di tengah derasnya salju yang turun. Nggak matching memang. Mungkin bawaan kangen kampung halaman, ya?

Jadi, selama tiga minggu ini, kampung kami dilanda salju dan hujan on and off. Saya mulai berhalusinasi, jangan-jangan benar spring baru hadir bulan Juli nanti. Hitung punya hitung, sudah 7 bulan lamanya kami didera salju. Kemarin pagi, suami saya tiba-tiba berseru, “Eh rumput kita sudah mulai ada hijau-hijaunya.”. Saya lari ke depan, haaallllaaah… cuma secuil rumput hijau di sana-sini.

So? Is it spring yet?

Daripada kebanyakan ngarep, mending nyanyi aja kali, “Eh hujan gerimis aje, ikan lele ade kumisnye. Eh jangan menangis aje, kalo boleh cari gantinye”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: