Dari Taman Ke Taman

Suami saya termasuk si “green thumb”. Setiap kami melakukan misi penyelamatan tanaman alias tanaman yang kondisinya “hidup segan, mati tak mau”, dia berhasil mengembalikan “keceriaan” mereka sebagai tanaman. Oh ya, misi penyelamatan ini biasanya terjadi di Walmart atau supermarket. Menjelang akhir musim panas atau gugur, biasanya tanaman yang mereka jual di sana dalam keadaan nelangsa dan didiskon hingga 90%. Itulah saat tepat membawa mereka pulang agar rumah kami di musim dingin yang panjang dan membosankan jadi meriah. Kami juga pernah menyelamatkan tanaman yang nelangsa di perpustakaan kota kami karena saat itu tidak ada mengurusnya. Semua tanaman itu kini begitu hidup, hijau royo-royo meramaikan tiap sudut ruang tamu kami.

Selain rajin berkebun di dalam rumah, tahun 2010 ini, suami saya memulai proyek berkebun sayuran organik. Sampai dengan awal Juli, sayuran yang ditanamnya seperti kentang, kacang polong, wortel, kacang panjang, beet, tampak menjanjikan siap dipanen. Sayangnya, cuaca di sinilah yang menghancurkan calon panen kami. Ditambah pula kunjungan tamu tak diundang alias rusa yang rupanya menemukan kebun kami sebagai lokasi yang mengenyangkan bagi mereka.

Saya sendiri belum pernah membuktikan kemampuan saya dalam bercocok tanam. Seperti memasak, saya tidak pernah belajar berkebun di masa lalu saya. Satu-satunya pengalaman awal berkebun, seingat saya, adalah ketika saya duduk di kelas 3 SD dan ibu guru menyuruh kami mempelajari perkembangan kecambah yang ditempatkan di 3 media berbeda.

Ketika suami saya asyik berkebun ria, musim semi dan panas 2010 ini menjadi awal keseriusan saya untuk memotret makro bunga-bunga cantik di sekitar saya. Saya pun “berkeliaran” dari taman ke taman. Menghabiskan waktu di green house teman. Mampir di rumah teman yang tamannya tampak mengundang hati. Mengetuk pintu rumah seseorang yang tidak saya kenal, meminta izinnya untuk boleh memotret bunga-bunganya. Mengawasi bunga-bunga hiasan di pinggir jalan bak sang elang yang siap menerkam mangsanya.

Semuanya menyenangkan. Menenangkan. Semakin mendekatkan saya pada Sang Pencipta. Menariknya, beberapa hari terakhir ini, seiring dengan berakhirnya musim panas, saya jadi tergugah untuk memiliki taman sendiri tahun depan.
“Okay. You do all the work, I’ll help you.”, begitu kata suami saya ketika saya memohon dibuatkan taman bunga tahun depan. Hhhmmm….

Bloodroot


Cosmos


Gayfeathers


Coneflower

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: