Bang Bing Bung

Jujur saja, saya mudah terusik setiap membaca berita tentang warga Indonesia yang bekerja di lingkungan pemerintahan namun mampu membuka rekening tabungan di Swiss atau lokasi lainnya. Hebat nian! Bagaimana kiatnya, ya, sehingga mereka bisa lolos seleksi dan diterima dengan tangan terbuka untuk menabung di Swiss?

Ketika saya ingin membuka rekening di bank Canada saja prosesnya sangat mendetil karena mereka harus yakin ini bukan money laundering, padahal rekening saya hanya sempalan alias joint account dengan suami saya. Pertanyaan saya berikutnya, bagaimana caranya menambah “digit” tabungan dollar mereka jikalau hanya berdasarkan pendapatan resmi? Apalagi nilai rupiah semakin hari tak berarti dibandingkan geliat dollar.

Aaah.. sepertinya tabungan pekerja periklanan yang dianggap termasuk kalangan pekerja Indonesia yang beruntung itu takkan mampu menyaingi mereka. Ada teman komentar, “Anak iklan kan boros. Gaya hidupnya hedonis. Senang hura-hura, blanja-blenji. Manalah mungkin bisa menabung seperti mereka itu?”.

Namun sebagai mantan “anak iklan” saya bisa berkata, “Ya.. ya.. ya.. kami mungkin boros, tapi kami membayarnya hanya berdasarkan gaji asli.”. Memang ada juga yang rajin memanfaatkan kartu kredit, sistem gali lubang tutup lubang bukanlah tabu. Tapi untuk mereka yang hidupnya jauh dari hedonisme, apa betul bisa menabung sampai jutaan dollar? Mungkin saja sih, kalau modal awalnya dibantu juga oleh orang tua yang pengusaha super sukses atau CEO perusahaan multinasional, atau dia sendiri sukses berjibaku di pasar modal. Sepengamatan saya, banyak teman yang akhirnya berhasil memiliki sesuatu adalah dari hasil bonus tahunan, atau sebagai dampak SJ yang kencang alias rajin cari tambahan. atau bersusah payah melakoni kewajiban kredit bank. Saya yakin seyakinnya saya belum menemukan anak iklan Indonesia yang berjaya menabung jutaan dollar di Swiss berdasarkan gaji bulanan semata.

Sambil tersenyum, almarhum dokter saya pernah mengingatkan untuk tidak ikut pusing memikirkan negara daripada jadi kesal sendiri dan akhirnya sakit ini itu. Menurut saya, beliau sungguh beruntung tidak perlu lagi membaca betapa marak dan menyedihkannya kasus korupsi di Indonesia dewasa ini. Semasa hidupnya, beliau menjalani kehidupannya yang lurus sesuai dengan prinsipnya. Percaya tidak, sebagai dokter spesialis lulusan Jerman dan New York, dia hanya menerima 7 pasien setiap harinya. Alasannya? Beliau katakan, “Kalau banyak pasien, berarti saya tidak bisa bekerja maksimal untuk mereka. Apa bedanya dokter dengan restoran fast food?”. Ketika saya bertanya mengapa tarifnya bertahun-tahun tetap di bawah seratus ribu rupiah sementara dokter lain sudah di atas angka dua ratus ribu dengan waktu tatap muka hanya 10 menit? Beliau menjawab, “Saya jadi dokter dulu karena bea siswa Pemerintah, dari uang rakyat. Saya merasa wajib mengembalikan itu kepada pasien saya dengan tidak memasang tarif.”. Duuuh… sungguh pemikiran yang langka. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah karena amal ibadahnya itu.

Setiap mengingat ucapan almarhum dokter saya itu, saya jadi tersadar. Sudahlah, berhenti terusik! Tabungan jutaan dollar di Swiss itu apalah artinya kalau bukan dari sumber yang halal. Lebih baik saya memikirkan cara menabung yang halal. Lebih baik saya rajin menabung amal. Lebih baik saya tak pernah lupa, semua hal dalam hidup kita ini harus bisa dipertanggungjawabkan saat kita kembali pada Sang Khalik.

Kalau begitu marilah bang bing bung yuk kita nabung, tang ting tung yuk jangan dihitung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: