Ari kamu teh come from mana?

Sebagai anak SD Jakarta yang pindah ke Medan, awalnya saya suka merasa risih dengan gaya teman-teman saya bicara. Pasti ada kata “aku-kau” dan “lah” di setiap kalimat mereka. Belum lagi mereka bicara dengan nada tinggi, kesannya marah padahal sesungguhnya biasa-biasa saja. Di Jakarta, zaman saya SD, kami tidak bergue-lu, tapi bersaya-kamu. Kebiasaan itu terbawa ke Medan. Alhasil, setiap saya bersaya-kamu, teman-teman saya yang anak-anak Medan itu memandang saya aneh.

Saat masih berusaha keras beraku-kau ala Medan, saya harus ganti model adaptasi lagi. Kali ini kami pindah ke Bandung. Meskipun nama saya berbau Bali karena ayah saya dan ibu saya wargi Bandung, bahasa saya di rumah adalah bahasa Indonesia. Maka gak aneh kalau pusinglah saya belajar bahasa Sunda yang dijadikan pelajaran wajib di sekolah itu. Kalau diingat-ingat, itulah stres pertama saya sebagai anak SD. Dari “aku-kau” dan “lah” saya harus kembali lagi menjadi “saya-kamu” dan mengganti “lah” dengan “teh”. Untung, akhirnya gaya bicara saya bisa seperti ini: “Ninina kamu teh siapa?” atau “Ari ini teh teh siapa?”.

Tamat SD, kami pindah lagi ke Jakarta. Di masa ini, teman-teman saya bergue-elu. Karena kagok, saya jadi lebih banyak menyimak. Tiap saya bicara, mereka tersenyum simpul. Mereka bilang, “Iih.. lucunya logat lo! Teh itu jangan dibawa-bawa, diminum aja!”. Saya berusaha keras tidak membawa-bawa “teh” sebagai sisipan kata-kata saya. Walaupun saya sangat menikmati berbahasa ala anak Bandung, tapi anak-anak Jakarta manalah mengerti.

Memasuki masa kerja, senior-senior saya kebanyakan lulusan ITB. Dengan suka cita, mengalirlah lagi kenyamanan saya berbahasa ala anak Bandung dengan mereka. Sering juga bercampur dengan bahasa anak Jakarta. Seperti ini: “Gelo… keren banget!” atau “Ti mana wae? Makan siang meuni gak ngajak-ngajak!”. Lalu saya mendapat bos yang berbahasa British English sementara acara TV dan bacaan kami berbasis American English. Alhasil, script yang saya tulis sering dikoreksi berdasarkan kaidah Merriam-Webster.

Tuhan memang Maha Jenius, Alhamdulillah otak ini bisa beradaptasi. Yang ribet sesungguhnya ketika bos saya yang dari etnis Cina warga negara Malaysia mengajak diskusi dalam bahasa Melayu bercampur bahasa Indonesia dengan logat bahasa ibunya. Bukannya congkak bukannya sombong, akhirnya saya jawab saja dalam bahasa Inggris yang kadang ala British English kadang ala American English. Daripada pusing? Diapun akhirnya berbicara dengan bahasa Inggris. Memang bahasa Inggris itu lingua franca, ya!

Tapi pernah gara-gara bahasa Inggris saya diomeli supir taksi di Kuala Lumpur. Si bapak menegur saya dalam bahasa Inggris, ya saya jawab dong dengan bahasa yang sama. Percakapan berikutnya berlangsung seru dalam bahasa Inggris. Menjelang tujuan, si bapak mengecek saya lewat kaca spionnya. Dia bertanya dari mana asal saya. Saya jawab, Jakarta. Dia langsung bilang, “Kenapa tak cakap Melayu dari mula? Sesama Melayu cakaplah Melayu, tak perlu English!”.

Yo oloh… Pak, punten pisan, manalah saya mengerti cakap Melayu situ!

2 thoughts on “Ari kamu teh come from mana?

  1. Aduh Zus, het is mooie van storie wietje! Wakakakakak * ik juga korban campur bahasa di otak lah…….tak pa lah….. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: