Ada Sereh Di Sayur Lodeh

Di Indonesia, sereh bukan benda yang langka. Mau ditanam di halaman rumah, pasti tumbuh. Ingin masak sesuatu berbumbu sereh, di pasar atau supermarket pasti ada. Malas ‘nanam atau ke pasar? Si abang tukang sayur yang lewat rumah pasti menjualnya. Saya ingat, di Bali, sereh malah dijadikan bak asesoris untuk sajian minuman atau makanan tertentu. Jujur saja, dulu saya menganggap sereh sebagai hal yang sepele.

Seperti kata pepatah, pengalaman akan mengajarkan kita arti: don’t take thing for granted. Dan saya mendapatkannya dari sang sereh. Percaya gak, sebatang sereh ternyata juga bisa jadi komoditas yang mengharukan. Semua berawal dari ambisi saya membuat sayur lodeh sebagai menu Lebaran kedua saya di Canada. Berdasarkan riset dan konsultasi jarak jauh dengan ibu saya, sayur lodeh termasuk mudah dibuat karena sayurannya bisa didapat di sini. Bisa dilahap oleh para tamu vegetarian dan non-vegetarian. Dan yang paling penting untuk pemasak pemula macam saya, sayur lodeh bisa dijadikan andalan kan?

Saya tinggal di pedalaman Canada yang boleh dibilang tidak senyaman tinggal di kota-kota besar yang memiliki banyak komunitas orang Asia. Sayuran segar apalagi bumbu masakan sangat super terbatas pilihannya (semoga kata-kata tadi bisa meyakinkan Anda betapa susahnya tinggal di pedalaman begini.. hehehe…). Bawang merah Asia alias shallots, daun jeruk, tempe, sereh termasuk barang langka. Untungnya, saya bisa dapatkan bawang merah walaupun bentuknya beda dari yang saya waktu di Indonesia. Tempe ala Health Food Store seharga $5, cek. Daun jeruk, maaf.. ini terpaksa lewat (habis gak ada sih!). Tapi apa rasanya sayur lodeh tanpa sereh?

Nah, demi promosi masakan Indonesia dan kesuksesan sayur lodeh pertama saya, saya pun berburu sereh. Pergilah kami ke kota yang berjarak sekitar 180 kilometer dari kota kami. Alhamdulillah rezeki saya hari itu, saya berhasil mendapatkan satu-satunya sereh segar di supermarket yang menurut saya lumayan (untuk kategori di pedalaman begini) menyediakan bumbu-bumbu masakan dan sayuran Asia. Di perjalanan pulang, dengan penuh kebahagiaan saya pandangi satu-satunya sereh bakal penyedap sayur lodeh pertama saya itu. Mak, I’m going to cook sayur lodeh!

Singkat cerita, saya yang sama sekali tidak pernah memasak sayur lodeh ketika di Indonesia, akhirnya berhasil menyajikan sepinggan sayur lodeh di hari Lebaran 2007 lalu. Para tamu begitu lahap menyantapnya. Perjuangan saya mencari sereh tidaklah sia-sia. Sayur lodeh yang dulu boro-boro saya sentuh, sekarang jadiobat rindu saya pada Indonesia. Dari sebatang sereh, saya belajar akan betapa nyamannya tinggal di Indonesia. Dari sebatang sereh yang saya genggam erat-erat di perjalanan pulang itu, saya bisa berbangga hati. Karena para tamu yang berkulit putih dan tinggal di pedalaman Canada itu sekarang tahu seperti apa rasanya sayur lodeh, salah satu masakan khas Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: